Langit Biru

Innama'al 'usri yusra

Muhasabah aktivis Dakwah Kampus (Bagian 1)

pada 26 Februari 2013

Rumahku nan indah nan asri,

Kenapa dirimu bermuram durja?

Ia begitu megah dan besar,

Namun kenapa ia seolah tak terlihat?

Rumahku begitu teduh,

Tapi, kenapa sedikit niatan tamu tuk berkunjung?

Apakah yang salah dengan rumahku?

 

                Lebaga Dakwah Kampus bagi para aktivis merupakan “rumah” untuk bernaung dari baik suka maupun duka dalam menyampaikan kebenaran. Kebenaran yang mulai pudar di kalangan civitas akademika. Tempat berkumpulnya orang-orang yang bervisi sama untuk membangun kampus madani. Indahnya naungan ini sehingga kadang penghuninya terbuai akan prestasi yang telah diukir oleh para pendahulunya. Begitu tentramnya hati ini ketika berada di dalamnya, seolah merasa kita yang banyak kekurangan tertutupi oleh kesempurnaan image yang telah ada.

                Padahal sungguh, dakwah itu bukanlah sekedar menyelenggarakan sejenis event yang hanya melakukan pencitraan akan Islam yang indah. Tetapi, dakwah itu juga menyentuh hati-hati yang ingin tersentuh hidayah Islam yang menghangatkan siapapun yang menerimanya. Begitulah hakikat aktivis dakwah. Kewajibannya sungguh dua kali lebih banyak dibandingkan teman-teman lainnya. Kenapa? Karena mereka ke kampus tak hanya sekedar menunaikan amanah orang tua atau agama untuk menuntut ilmu, namun juga memperjuangkan tegaknya Laa ilaa ha illallaah di kalangan civitas akademika dan menjadikan sekelilingnya penuh dengan rahmat Allah. Hari yang baik akan segera kita jemput untuk menjadikan semuanya menikmati indahnya Islam itu, bukan Islam yang meneror atau anarkis seperti yang selama ini diberitakan oleh media.

                Amanah itu, bukanlah suatu amanah yang dapat dipikul oleh badan yang fisik maupun psikisnya lemah. Bukan. Mereka para aktivis dakwah tidak hanya harus memiliki fisik yang kuat, psikis yang kuat, tetapi juga harus memiliki ilmu yang luas. Perjuangan itu memang berat. Inilah jihad kami. Jangankan peluh, air mata, bahkan darah pun akan kami berikan untuk menciptakan kampus madani.

                Tapi, akan jadi satu perkara yang fatal jika kita terlena akan prestasi yang telah dicapai, nyaman akan perasaan “sempurna” yang menaungi, merasa diri yang paling benar, paling hebat, dan sebagainya. Astaghfirullahal’azhiiim.

                Penulis teringat akan sebuah pesan dari seorang akhwat,”Kamu akan dapat melihat dan menilai ukhuwah antar sesama akhwat ketika kamu berada “jauh” dari mereka, jauh dari bidang yang keren seperti kaderisasi dan keputrian, atau ketika jauh dari mengikutsertakan diri dalam agenda-agenda yang diselenggarakan oleh teman-teman LDK”. Pesan tersebut disampaikan ketika ana masih baru bergabung ke dalamnya. Menurut ana pesan tersebut hanyalah sebuah pesan yang mungkin kurang dapat dipercaya. Bagi ana yang awam kemudian bertanya,”Bukankah ukhuwah antar aktivis itu selalu baik?”. Beliau hanya menjawab,”Nanti kamu akan merasakan sendiri,dek”. Senior tersebut hanya membalasnya dengan senyuman.

                Ketika memasuki masa-masa puncak yang rawan seperti semester 4 ke atas atau beberapa tahun bergabung di dalamnya, barulah saat ini apa yang disampaikan oleh senior saat itu mungkin ada benarnya. Majelis syuro’ yang hanya kenal dan dekat oleh orang yang “itu-itu” saja. Ketika bertemu dengan sesame ikhwah, belum tentu akan ada saling sapa hangat seperti ketika awal bergabung. Bidang-bidang selain kaderisasi dan keputrian memang terasa kurang diperhatikan. Ketika di survey, bidang yang hanya menjalankan tugasnya hanya kaderisasi atau keputrian. Pengkaderan memang harus ada setiap tahunnya, riayah kader agar tidak “melenceng”,hal ini wajar jika bidang kaderisasi merupakan bidang yang paling sibuk karena merupakan inti suatu lembaga dakwah. Tapi, dakwah juga tidak akan berjalan jika hanya ada pengkaderan, tanpa ada wadah untuk para kader menyalurkan bakat keterampilannya, tanpa ada bidang yang mensyiarkan tak akan  ada pencitraan yang dapat menarik para teman-teman lainnya yang belum tersentuh hidayah. Perhatian yang kurang, maka jangan salahkan jika mereka mencari “perhatian lain”. Berikut merupakan penyakit akibat “kurang perhatian” para aktivis dakwah : Ukhuwah yang masih terkesan saling iri, terkesan saling memperebutkan suatu amanah agar dianggap militan, berlomba-lomba berbuat baik hanya ingin dipuji atau dilihat baik, melembutkan suara ketika berbicara dengan lawan jenis agar dikira lembut, dengan mengatasnamakan menjalin silaturrahiim tapi kenapa harus sms-an atau telepon-an dengan bukan mukhrim secara berkala? Astaghfirullah.. Na’udzubillah min dzlik.

                Lucunya, ketika masalah ini melebar hingga ke petinggi-petinggi dakwah sekelas majelis syuro’, mereka malah terkesan membenarkan. Berdiam diri, tak melakukan apa-apa, menutup mata dan menyerahkan semua nya kepada para anggota bidang kaderisasi untuk menyelesaikan. Waah waah, luar biasanya kaderisasi. Mengurusi semua orang yang ada di lembaga dakwah kampus seorang diri.

Tetapi, benarkah yang seperti? Hanya kewajiban tim dari kaderisasi saja?

 Bukankan ini kewajiban sesame kita untuk mengingatkan?

 Bukankan setiap muslim itu bersaudara, kalau begini berarti yang bersaudara dengan ikhwan yang kurang perhatian hanya kaderisasi dong?

Jika jawaban tersebut “iya”, berarti hadits nabi tentang ukhuwah itu ….. (diisi sendiri).

                Bukan, bukan begitu. Kewajiban menjaga kader dakwah, bukan hanya kaderisasi. Memberikan perhatian itu tidak boleh pilih kasih, jangan salahkan mereka mencari perhatian dengan lawan jenis atau memilih keluar dari lingkaran ini, dan sebagainya. Karena dakwah itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat tetapi lama dan berkesinambungan, dakwah tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang tapi butuh banyak orang agar dakwah itu berkembang, dakwah itu tidak bermanfaat atau berkembang  jika kita tidak bisa mencontohkan perbuatan yang baik atau ikhlas lillahi ta’ala menjalaninya. Ingatlah, baik buruknya kita sebagai manusia Allah lebih mengetahui, tak perlu ditutupi atau dibuat-buat. Karena Allah membenci orang-orang yang munafik ya akhi..ya ukhti.. Tafadhol mari kita sama-sama bermuhasabah diri, kembali ke zero. Jangan bangga dengan kerudung lebar dan panjang atau celana cungkring dan jenggot tipis itu. jika sikap kita tak ada bedanya dengan orang yang tak berkerudung, senang ghibah, senang berkalwat dengan lawan jenis, lalai dengan wajibat yaumi, dan sebagainya. Bermain api kita akan terbakar, bermain air kita akan basah. Setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan Allah mengetahuinya…

 

Allah yang menaungi kita dengan rahmat sehingga langkah kaki ini menjadi berkah,

Allah  yang mlembutkan lisan kita sehingga mereka tersentuh hidayah-Nya,

Allah yang menguatkan kita sehingga kita bisa kuat menerpa cercaan dari yang membenci kebenaran,

Allah yang menegarka kita sehingga kita bisa istiqomah berada di rumah ini,

Allah yang menyanyangi kita sehingga orang lain menyayangi kita,

Allah yang bersama kita sehingga orang memilih tuk bersama kita…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: